Selasa, 14 September 2010
Pengalaman Yang Berliku
Saat itu, saya tidak mengenal istilah bermain curang, nyontek, atau pakae joki. Yang kita kenal bahwa anda jawab soal dengan benar maka anda lulus, tidak jawab maka anda tidak lulus. Menyontek adalah kebiasaan buruk yang demikian haram saat itu.
Saya percaya pada semua guru guru. Pemikiranku mengatakan bahwa semua guru itu pintar, jujur, dan amanah. Hingga betapa saya hormat kepada guru. Kalau harus lewat di depan mereka maka saya minta permisi sambil jalan membungkuk dan tangan turun ke sebelah -simbol minta permisi. Kalau kita bercanda dengan kawan lantas ada guru kita langsung berhenti ketawa, khawatir kalau guru tersinggung.
Pada saat pengumuman saya merasa demikian senang, karena saya lulus, lulus murni tanpa dilulus - luluskan. Jadilah saya menjadi salah satu siswa kelas I SMA. Ketika naik kelas II -seingat saya - diadakan pembigian jurusan. Nyatanya saya di tempatkan pada kelas II IPA B.Teman lain adalah IPA A, dan IPA C. Saya tambah gembira karena saya masuk kelas IPA. Waktu itu kalau kita masuk kelas IPA berarti kita dianggap cerdas.
Semasa di SMA pelajaran faforitku adalah bahasa Inggris dan Kimia. Alhamdulillah baahsa Inggris dan Kimia mendapat rata- rata 8. Cuma banyak juga kawan saya cerdas cerdas. Mereka lebih cerdas dari saya seperti Hamzah yang sekarang menjadi Guru Besa r Matematika UNM Makassar + Prof.DR. Hamzah Upuu, Istambul, Ali Imran.
Teman-teman yang lain saya masih ingat adalah sukarni, roberta, supriyadi, dan darwis, dan Iqbal.
Duhai masa SMA yang indah. Demikianlah saya bersungguh belajar di selolah sambil juga belajar bisnis di kampung dengan membuka toko toko.
Tak terasa saya sudah tamat SMA tahun 1984. Seusai tamat SMA saya lanjut kuliah ke Makassar. Itulah pertama kali saya ke Makassar bulan Juli 1984. Sebelumnya saya hanya sering mendengarkan cerita teman teman tentang makassar. Mereka sering nyanyi nyanyi : rasai nyamenna pantai losari. Saya ke Makassar bersama Hilma Tallasa, menginap di rumah sepupunya di Jalan Sungai Cerekang.
Bergetar lagi hatiku ketika pertama kali saya sampai di Unhas Jalan Kandea mengambil formulir ujian mausk Unhas 1984. Saya mengambil jurusan Bahasa Inggris UNHAS dan Bahasa Inggris IKIP. Saya lupa saat itu jurusan IPA pilih apa. Alhamdulillah saya lulus Sastra Inggris UNHAS.
Jadilah saya mahasiswa. Sebuah gelar yang gagah
Rabu, 25 Agustus 2010
MAKSUD DAN TUJUAN SEKOLAH
Begitulah model jalan dari bone ke makassar. Dari Sumpa Labu terus ke Tompo Ladang menuju Mallawa Maros sampai ke Camba, Elle Kappang, dan akhirnya tiba ke Bantimurung. Kemudian tiba ke Maros. Barulah setelah itu kita sampai ke Makassar ( ibu kota Sulawesi Selatan). Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi model jalan raya yang berliku, naik dan turun, kemudian dhibur dengan jurang yang dalam dan ganas.
Begitulah struktur jalan raya Bone - Makassar telah membentuk model jiwaku pula. Ah mirip benar dengan perjalanan hidupku yang memiliki rute yang berliku, naik dan turun, serta ada banyak pula jurang di samping kiri dan kananku. Wahai Allah yang Maha Bijak, terima kasih atas semua ini, Saya ridho atas apa yang engkau tlah tetapkan atas hidupku ini. Saya tak akan pernah sedih dan berduka, saya pun tidak akan pernah lelah memohon pada-Mu, karena saya percaya, engkau Maha Benar Janji-Mu. Selama Engkau tidak marah pada saya maka sudah bahagia karena-Nya. 3
Saya yakin apapun saya alami dan di manapun saya ditempatkan di bumi ini, Engkau senantiasa telah mempersiapkan perlindungan untuk diri saya. Itulah keyakinan yang membuat hidup ini senantiasa tenang, aman, damai, dan sejahtera.
Kembali kepada memori masa lalu. Saya termasuk seorang siswa yang tidak banyak bertanaya tentang di luar diri saya. Sebab entah karena keluguan masa lalu, saya tidak mengenal kosakata prasangka buruk pada apa yang di luar diri saya. Semuanya baik. Yaa baik, lingkungan baik, guru baik, teman baik, orang tua baik, saudara baik. Jadi yang saya pikirkan hanya satu. Saya mau sekolah, saya mau belajar, dan saya mau tuntut ilmu. Mengapa, saya mau berubah. Saya mau ubah kondisi sosial saya. Dari orang tidak tahu menjadi orang yang tahu. Dari orang yang serba kekurangan menjadi orang yang berkecukupan. Cukup ilmu, cukup rezki, cukup iman, dna cukupa akhlaknya. Hinnga dengan demikian ini hidup ini bisa diolah menjadi taman taman sorga yang insya Allah kelak dapat dipetik hasilnya dalam sorga nanti.
Maka dari itulah saya sangat serius dalam belajar. Belajar di malam hari, subuh, dan siang hari di sekolah. Kalau tida ada guru maka carilah saya di perpustakaan sekolah. Kalau sore telah tiba sambil menuntun sapi ke sawah sawah maka carilah saya di bawah pohoon kayu atau di atas pohon kayu. Di situ saya sedang membaca buku buku sambil nyanyi kecil menghibur diri. Indah benar alam ini, ia memberiku apa yang kumau. Waktu itu pemahamanan saya masih sederhana. Saya hanya paham bahwa alam ini indah, baik, dan memberi apa yang kita butuhkan titik.
Bila malam telah tiba seusai isya maka ambil lagi buku buku kadang belajar sendiri kadang pula belajar bersama dengan teman teman sekelas di kampung. Hampir hampir saya hafal benar isi buku buku pelajaran itu. Sampai hari ini masih ada tinggal sedikit tentang memori itu khususnya dalan ilmu kimia dan ilmu hayat (Biologi). Alhamdulillah ilmu itu juga terasa mamfaatnya sampai sekarang meskipun ketika kuliah saya ambil jurusan Sastra Inggris di Unhas.
Senin, 29 Maret 2010
Maksud Dan Tujuan Sekolah 3
Apakah memang tidak ada kejadian buruk terjadi selama sekolah waktu SD, SMP, dan SMA ? Tentu ada, namun peristiwa itu tidak menjadi masalah yang berkembang sekurang kurangnya untuk saya sendiri. Bagi saya kejadian- kejadian itu tak lebih dari pada bumbu masakan agar lebih enak. Mengapa ? Karena pada umumnya guru memang profesional dibidangnya masing - masing. Mereka tampak menguasai pembelajarannya, mereka tampak ikhlas, dan mereka memiliki perhatian sungguh sungguh kepada anak didiknya. Mereka tidak termasuk orang yang terjebak menjadi guru sebagaimana istilan DR. Saleh Muntasir. Maksudnya orang yang sesungguhnya tidak berbakat dan tidak berminat jadi guru, tetapi karena tuntutan pekerjaan dan ada memberi peluang mereka menjadi guru baik karena memang mereka tamat pada sekolah guru, jurusan pendidikan guru, ataupun dari jurusan lain. Demikian pula waktu itu tak terdengar berita berita korupsi, pungli, dan penyelewengan dari pihak sekolah. Sehingga guru - guru pada umumnya khususnya kepala sekolah terkesan amat berwibawa. Saya ingat Kepala SMA Neg 1 saat itu M.Idris Pakki, Kepala SMP Neg.3 Abd. Jabbar, BA., dan Kepala SD neg. 42 Waetuwo PAK ALWI kemudian Pak Syukri,kesemuanya terkesan berwibawa sehingga sekolah tampak dapat berjalan dengan baik.
Alhamdulillah, saya masuk SMA Neg. 1 Watampone tahun 1981 dan tamat 1984 pada Jurusan IPA. Lagi - lagi saya memilih jurusan IPA melalui seleksi yang ketat. Belajar di SMA terasa lebih berat dibanding dengan SD dan SMP. Saya mesti belajar lebih rajin sewaktu SMA. Ada 4 mata pelajaran yang terasa agak berat waktu SMA yakni mata pelajaran IPA itu sendiri : Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia. Meskipun saya sendiri masih memiliki kompetensi yang baik khususnya pada Ilmu Kimia dan Ilmu Hayat (Biologi). Adapun untuk mata pelajaran matematika dan fisika khususnya sewaktu kelas 3 saya hanya dapat mencapai rata rata cukup baik yakni nilai murni 7.
Setelah diadakan ujian evaluasi belajar tahap akhir sekolah tahun1984, Alhamdulillah saya lulus murni tanpa sedikitpunn kecurangan seperti menyontek atau jawaban dibocorkan oleh pengawas. Yaa, memang ketika itu mulai SD sampai SMA bahkan lanjut sampai ke Perguruan Tinggi saya senantiasa mengikuti ujian dengan sungguh- sungguh disertai persiapan yang serius pula. Sebab bagi saya kelulusan itu tentu amat bergantung kepada kebenaran jawaban. Bagi saya tidak ada istilah lulus ujian karena dilulus - luluskan. Dengan kata lain saya tidak mengenal nilai kulantu, nilai jadi - jadian, nilai karena ada hadiah, dan atau kedekatan dengan guru atau dosen. Bagi saya nilai benar benar mencerminkan tingkat kompetensi seorang siswa. bersambung ...
Rabu, 17 Maret 2010
Maksud Dan Tujuan Sekolah 2
Tentu saja saya bersyukur saya sekolah. Ada banyak pelajaran dan pengalaman saya dapatkan dalam sekolah itu. Sebagaimana saya ungkapkan sebelumnya bahwa lewat sekolah itulah saya belajar membaca, berbahasa -Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Daerah -, dan belajar berhitung. Bahkan lewat sekolah itulah saya diperkenalkan Allah, tuhan semesta alam.
Itulah sebab mengapa setamat SD saya ngotot untuk melanjutkan pendidikanku ke SMP NEG. 3 Watampone. Saya masuk SMP tahun 1978 dan tamat tahun 1981. Di SMP itu bertemu dengan orang orang baru. Yaa guru baru, teman teman baru, pengalaman baru, cara hidup baru, dan juga lingkungan baru.
Kalau dahulu waktu SD, khususnya teman - teman semuanya berasal dari kampung sendiri kalau di SMP teman saya berasal dari banyak daerah di Kab. Bone. Demikian pula guru guru, berasal dari berbagai daerah di Kab. Bone. Kemudian pengalaman baru bertambah sejalan dengan bertambahnya umur. Demikian pula sebagai anak desa tahun 70 an tentu tidak sama dengan jaman sekarang. Dulu tinggal di desa identik dengan kegelapan di malam hari karena belum ada lampu listrik. Jalanan desa berlobang dan berbatu. Berkomunikasi dengan telpon identik dengan cara hidup orang kota. Pokoknya hidup di kota banyak berbeda dengan hidup desa. Orang kota tampaknya lebih bersih tubuhnya, lebih baik pakaiannya, rumahnya, dan lebih gaya bicaranya.
Orang kota tidak perlu menggembala sapi, tidak usah ke sawah untuk tanam padi, dan tidak usah juga turun ke hutan bakau untuk tangkap kepiting. Kalau mereka mau memenuhi kebutuhannya cukup mereka ke pasar. Entah apa kerja orang kota mereka memiliki banyak duit. Mereka ada banyak punya mobil, punya rumah mewah, dan perelengkapan hidup lainnya.
Demikianlah sekelumit pengalaman baru ketika saya lanjut SMP di kota watampone, menjumpai hal hal baru tadi.
Lingkungan baru dirasakan ketika belajar dengan kawan - kawan baru di dalam kelas. Cara belajarpun berbeda, kalau di sd kita kenal guru kelas. Dialah yang mengajarkan semua mata pelajaran, kecuali mata pelajaran agama dan seni. Di smp berbeda setiap mata pelajaran diajarkan oleh guru mata pelajaran. Kalau ada 10 mata pelajaran maka ada sepuluh guru mata pelajaran. Mereka bergantian masuk ke dalam kelas sesuai dengan mata pelajaran yang diasuhnya.
Saya menempuh pendidikan SMP Neg. 3 tahun lamanya. Apa yang saya peroleh selama menempuh pendidikan di SMP? Paling tidak ada kategori yang saya dapatkan , pertama pendidikan luar sekolah dan kedua pendidikan dalam sekolah. Pendidikan luar sekolah yang saya maksudkan adalah pertumbuhan dan kepribadian dan karakter sebagai respon terhadap pengalaman hidup yang diperoleh karena sekolah itu. Misalnya, Saya mesti bersabar menempuh perjalanan kurang lebih 13 km pulang balik dengan memakai sepeda besar dengan jalanan yang kurang mulus, khususnya sebelum tiba di kota. Saya mesti tegar kalau sering- sering jalan kaki di malam hari sepulang dari sekolah bila tidak ada lagi kendaraan umum atau pribadi ke kampung, baik berupa angkot /angdes, dokar, motor, dan sepeda. Besambung.......
Minggu, 07 Maret 2010
MAKSUD DAN TUJUAN SEKOLAH
Kembali saya lanjutkan pertanyaan beberapa hari yang lalu, buat apa sekelah. Ketika pertanyaan itu kita ucapkan maka spontan orang-orang akan menjawab :
a. Saya sekolah karena saya mau pintar
b. Saya sekolah karena saya mau mengejar impian saya
c. Saya sekolah karena demi masa depan saya yang bahagia
d. Saya sekolah karena saya mau bekerja
e. Saya sekolah agar saya bisa menjadi orang
f. Saya sekolah agar saya dapat hidup dengans sukses.
g. Saya sekolah saya agar saya memiliki derajat kehormatan, status, dan kewibawaan.
h. Saya sekolah agar saya dapat turut serta membangun kampung saya / negeri saya
i. Saya sekolah agar saya dapat seperti om saya, bapak saya, dan atau orang-orang yang saya idolakan.
So what ? Jadi apa yang salah ? Semua jawaban tersebut sama dengan jawaban sebagian santri-santri atau mahasiswa yang ditanya buat apa sekolah. Saya sendiri waktu masih SD dahulu. Buat apa saya sekolah ? Entah bagaimana awal mulanya saya tertarik mau sekolah. Apakah bersekolah itu telah menjadi tradisi atau suatu keperluan yang memang demikian adanya.
Yang saya ingat bahwa ketika berumur sekitar 6 tahun, yakni pada tahu 1972. Saya melihat teman-teman sebaya masing-masing berangkat ke sekolah. Ada yang bergembira ada pula yang tampak rona wajah yang cemas. Saya melihat orang-orang sekampung saya sekolah. Alangkah gagahnya mereka. Guru-guru di sekolah demikian berwibawa. Mereka demikian terhormat.
Hari-hari pertama saya menginjakkan kaki di pintu gerbang sekolah SD Neg. 42 Waetuwo bergetar hati saya. Dalam benak saya menari-nari harapan saya mau sekolah saya mau pintar. Namur saya tidak tahu apa sesungguhnya dipelajari dalam sekolah itu. Yang saya tahu guru itu baik dan pintar. Sungguh saya termasuk anak yang tidak memiliki angan-angan yang jauh. Ketika itu saya belum tahu sesungguhnya apa yang saya ingin capai dalam sekolah. Saya masih berumur 6 tahun. Boleh jadi hanyalah naluri atau semacam instink yang mendorong saya untuk sekolah.
Semua titah dan tutur guru saya ta’ati saya turuti 100% tanpa bantahan sedikitpun. Bagi saya sekolah adalah tempat menerima segala kebaikan dan kebenaran. Guru-guru adalah sumber dan teladan bagai saya. Mereka sumber ilmu dan teladan akhlak bagi saya. Dari merekalah saya mengenal huruf-huruf a b c d e f..... Dari mereka saya belajar menghitung 1 2 3 4 5 6 dan seterusnya. Dari guru-guru itulah saya belajar perkalian, tambah, bagi, dan perkurangan dalam ilmu berhitung.
Di sekolah itulah kemudian saya belajar bahasa Indonesia, Ilmu tentang Bumi, Ilmu Hewan, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, dan Ilmu Sejarah. Juga dari Guru Agamaku Saya belajar Ilmu Agama.
Namun demikian ada pula orang-orang dikampungku menentang sekolah. Kata mereka sekolah boros. Sekolah itu membuat anak-anak menjadi malas membantu orang tua di sawah. Bersekolah itu memperlambat anak-anak jadi dewasa. Sekolah itu mengisi hati anak-anak dengan ajaran-ajaran kultur orang Barat yang menganut paham kebebasan.
Malah ada lagi yang lebih ekstrim. Mereka memplesetkan sekolah itu seperti : SD artinya anak-anak mulai SI ODO ODO = baku intip baku colek laksana binatang kera; SMP artinya anak –anak mulai SIEMPE-EMPE = baku panjat baku peluk; dan SMA artinya remaja mulai SIEMMAU = baku cium; dan KULIAH artinya pemuda dan pemudi lanjut senantiasa baku lihat-lihat tanpa batas yang wajar. Wah ngeri banget kalau membayangkan isi pikiran mereka.
Kalau demikian sesungguhnya apa maksud dan tujuan sekolah ?
Selasa, 02 Maret 2010
Buat Apa Sekolah ?
Abu Rayhan
Kalau pertanyaan tersebut di atas kita ajukan kepada orang-orang jaman sekarang maka sudah dapat dipastikan mereka insya Allah akan menjawab : “Kok hari gini, masih ada pertanyaan seperti itu, apa kata dunia ? Wajar, memang wajar orang akan merasa heran dan kaget kalau ada orang bertanya buat apa sekolah ?
Tentu orang akan merasa tertimpa kilat di siang bolong. Mengapa tidak ? Bukankah sekolah itu harga mati untuk hidup jaman sekarang. Tidak sekolah berarti mati. Yaa seolah-olah kalau seorang tidak sekolah maka dikatakan suram masa depannya. Kalau seorang anak kita tidak bisa lanjut sekolahnya maka dikatakan masa depan itu sudah terenggut dan tiada lagi harapan yang tersisa. Itulah salah satu sebab kalau seorang gadis nikah waktu masa usia sekolah maka seolah-olah masa depan anak itu sudah hilang. Meskipun kalau kita usil sesungguhnya apakah masa depan itu dan kapan saatnya tiba, maka orang – orang juga akan kelabakan menjawabnya. Hal itu terjadi karena orang-orang terbiasa hidup dengan terperangkap dalam mitos-mitos kebenaran.
Apa yang saya katakan di atas menjadi kenyataan ketika suatu ketika saya bertaya kepada santri di pesantren tempat di mana saya mendidik (insya Allah). Ketika saya bertanya kepada mereka, buat apa sekolah ? Mereka tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut saya. Seakan-akan mereka berkata lhok, Pak Guru sendiri kan sekolah. Masa nanya lagi. Betul saya memang sekolah. Yaa sekolah formal mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Malah saya mengatakan kepada orang tua saya dahulu waktu saya masih di SD, kalau saya tak sekolah maka saya tak bisa karena saya tidak kuat bertani seperti ini. Saya ingat waktu itu kira-kira tahun 1977. Saya mencangkul sudut sawah yang hendak ditanami padi. Karena tubuh saya lemah sehingga kalau mencangkul tida mantap. Maka air sawah yang bercampur kotoran itu keciprat ke mata saya. Spontan saya mengatakan, kalau saya tak sekolah maka susah hidup saya ini. Tentu saja yang saya maksud sekolah formal.
Betullah santri katakan, Pak Guru sendirikan sekolah. Tidak akan bisa berdiri di depan kelas kalau tidak sekolah kan. Iya, iya. Tapi buat apa sekolah ?
Sederetan jawaban sudah antri yang menjadi alasan mengapa orang sekolah. Justru alasan inilah yang kita akan lihat nanti sebab dalam hidup ini khususnya dalam ajaran Islam dikatakab bahwa setiap perbuatan tergantung pada niatnya.
Rabu, 09 Desember 2009
Sungguh akan Kami Berikan Cobaan Kepadamu
Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar menghadapinya.
Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berdo'a: "Ya Tuhan kami, jangnlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya..."(QS 2: 286)
Do'a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta dan lainnya.
Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah. Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke "orang pintar" agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke "kursi" yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sadaqoh.
Al-Qur'an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: "Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2: 155)
Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah....tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, "yah..sabar kan ada batasnya..." Atau lidah kita berseru, "sabar sih sabar...saya sih kuat tidak makan enak, tapi anak dan isteri saya?" Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.
Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". (Qs 2: 156)
Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat "Inna lillahi...." Orang sabar-kah kita? Nanti dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.
Arti kalimat itu adalah : "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali." Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Qur'an!
Ikhlaskah kita bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila proyek yang sudah didepan mata, tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dna diberikan kepada saingan kita. Berubah menjadi dengki-kah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru, mobil baru atau malah istri baru. Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.... Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur'an: "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
Dalam sebuah hadis qudsi Allah berkata: "Siapa yang tak rela menerima ketentuan-Ku, silahkan keluar dari bumi-Ku!"
Subhanallah..... "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"
