Drs. Takuddin
Ketika saya kuliah pada Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggeris di Universitas Hasanuddin tahun 80an saya pernah mendengarkan penjelasana salah satu dosen saya mengenai beberapa contoh ugkapa salam dari beberapa bangsa. Dosen saya mengatakan bahwa kata sapaan salam ketika seorang bertemu dengan yang lainnya ternyata berbeda dari bangsa ang satu dengan bangsa lain. Ungkapan salam itu ternyata pula amat berpengaruh terhadap karakter dan kultur bangsa tersebut. Lalu pada akhirnya karakter dan kultur bangsa itu akan membentuk watak bangsa tersebut, apakah dia bangsa yang maju atau tidak.
Coba perhatikan lanjut dosen saya itu. Apa yang dikatakan oleh orang Jepang kalau bertemu dengan kawannya. Mereka akan mengatakan : "Bagaiamana, ada perkembangan, ada perubahan?" Coba lihat orang Jepang itu selalu saja menanyakan perkembangan yang terjadi pada setiap kawan mereka ? Mereka memiliki karakter dan kultur belajar, kreatif, kerja keras, dan harga diri. Sehingga kita tidak heran kalau mereka maju seperti sekarang. Teknologi dan pengetahuan berkembang di sana. Demikian banyak produk Jepang bertebaran di negara kita, mulai dari mobil, alat elektronik, dan sampai kepada barang-barang lainnya. Konon ketika Jepang telah di bom oleh Amerika tahun 40 an maka yang pertama ditanyakan adalah masih adakah guru yang hidup. Jepang memiliki kultur belajar yang kuat dengan prinsip "Ambil yang baik, buang yang buruk dan ciptakan yang baru.
Lalu sekarang coba dengarkan apa kata orang cina kalau ketemu. Mereka akan mengatakan : "Sudahkah anda makan?" Mari kita ambil sisi baiknya, orang cina di negeri kita menguasai sistim perdagangan kita. Mereka pekerja dan pedagang yang ulet. Salah satu diantaranya karena mereka memiliki karakter untuk hidup sejahtera.
Dengar pula sapaan orang Eropa kalau ketemu, mereka akan mengatakan : "Apa khabar?" Mereka menanyakan kabar kesehatan. Mengapa dengan sehat mereka akan sanggup bekerja keras untuk menata dunia ini. Dengan semangat kapitalisme dan imperalisme mereka bangsa Eropa dan juga Amerika menguasai tata kelola global. Terlepas baik buruknya mentalitas mereka, kita telah menjadi bangsa yang selalu saja baru berkembang. Sebuah istilah halus dari negara terbelakang.
Mendengarkan uraian dosen saya, maka saya pikir ada benarnya uraian tersebut. Saya pikir bahwa warisan kultur bangsa kita adalah memiliki kultur yang maju. Mari kita gali dan kembangkan.
Selasa, 17 Februari 2009
Apa Khabar Kawan
Abu Rayhan Al-Biruni
Satu hari saya bertemu dengan kawan lama saya. Sebagaimana biasanya saya menyapanya dengan ungkapan :"Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." Dia menjawab salam saya dengan damai dan tenang. Kemudian sebagaimana biasanya pula saya lanjutkan dengan sapaan :" Apa khabar?" Diapun menjawab :"Baik." Saya pun terus tanya bagaimana khabar ekonomi. politik, ibadah, dan rumah tangga?" Sambil senyum-senyum dia mengatakan kalau khabar ekonomi yaa senin-kamislah. Harap maklum kita ini PNS tingkat rendahlah. Gaji kita serba pas-pasan. Wah hebat itu, bagus itu. Kata
saya. Diapun menimpali, bagus apaan ? Ya, mau makan pas ada, mau minum pas ada, mau beli mobil juga pas ada, dan bahkan mau naik haji pas ada. Nyeleneh kamu. Ndak, maksud saya itu. gaji saya hanya pas untuk makan minum sebulan dan sedikit untuk biaya sekolah anak-anak. Yaa kadang pula kurang jadi ngutang dulu di warung depan rumah.
Terus bagaimana dengan kabar politik ? Oh itu politik. Kita kan PNS yaa netralah. Bukan maksud saya gimana pandanganmu dengan suasana politik sekarang ini. Yaa saya hanya bisa berdo'a mudah-mudahan nanti para anggota DPR/DPRD /DPD sungguh dapat dipercaya dan diandalkan untuk mewakili rakyat di legeslatif demi keadilan dan kesejahteraan rakyat banyak.
Jangan seperti yang sudah-sudah, mereka itu justru bikin sibuk saja para jaksa da hakim. Eh kawan apa maksudmu ? Lha ia toh. Mereka itu kan sebagian korupsi, yaa sibuklah para hakim mengadili mereka. Oh gitu lho bang maksudnya.
Terus gimana kabar ibadahnya. Yaa baik-baik saja. Saya ini gini-gini masih shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan. Cuma yaa saya belum bisa tunaikan rukun Islam ketiga yaitu zakat dan rukun Islam yang kelima yaitu Naik Haji.
Mendengarkan ulasan kawan saya itu ya sebut saja namaya La Baco (samaran) hatiku jadi teriris dan mapesse (pedis) . Somoga saja para anggota DPR/DPRD/ DPD/ MPR / Pemerintah dan yang terkait dapat mewakili menjalankan tugasnya dengan benar dan baik sehingga perilaku korupsi dapat dihentikan. Sebab perilaku ini sungguh sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan melebihi kejahatan bajak laut dan teroris. Mereka dapat membunuh sebuah bangsa menjadi bangsa yang kerdil dan tak memiliki martabat lagi.
Apa khabar kawan ? Bila besok lusa kita bertemu kuharapa jawabanmu membuatku tersenyum bahagia seperti cerita dalam dongeng-dongeng.
Terus bagaimana dengan kabar politik ? Oh itu politik. Kita kan PNS yaa netralah. Bukan maksud saya gimana pandanganmu dengan suasana politik sekarang ini. Yaa saya hanya bisa berdo'a mudah-mudahan nanti para anggota DPR/DPRD /DPD sungguh dapat dipercaya dan diandalkan untuk mewakili rakyat di legeslatif demi keadilan dan kesejahteraan rakyat banyak.
Jangan seperti yang sudah-sudah, mereka itu justru bikin sibuk saja para jaksa da hakim. Eh kawan apa maksudmu ? Lha ia toh. Mereka itu kan sebagian korupsi, yaa sibuklah para hakim mengadili mereka. Oh gitu lho bang maksudnya.
Terus gimana kabar ibadahnya. Yaa baik-baik saja. Saya ini gini-gini masih shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan. Cuma yaa saya belum bisa tunaikan rukun Islam ketiga yaitu zakat dan rukun Islam yang kelima yaitu Naik Haji.
Mendengarkan ulasan kawan saya itu ya sebut saja namaya La Baco (samaran) hatiku jadi teriris dan mapesse (pedis) . Somoga saja para anggota DPR/DPRD/ DPD/ MPR / Pemerintah dan yang terkait dapat mewakili menjalankan tugasnya dengan benar dan baik sehingga perilaku korupsi dapat dihentikan. Sebab perilaku ini sungguh sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan melebihi kejahatan bajak laut dan teroris. Mereka dapat membunuh sebuah bangsa menjadi bangsa yang kerdil dan tak memiliki martabat lagi.
Apa khabar kawan ? Bila besok lusa kita bertemu kuharapa jawabanmu membuatku tersenyum bahagia seperti cerita dalam dongeng-dongeng.
Langganan:
Postingan (Atom)
