Selamat Bergabung Kawan

Kawan yang Mulia

Kita manusia laksana ibarat penumpang yang sedang berada dalam sebuah Pesawat Terbang Super Canggih bernama "Dunia Air" yang sementara terbang dengan sangat cepat menuju tempat tujuan kita sesungguhnya bernama Kota Akhirat.

Oleh karena itu, mari kembali memeriksa perbekalan yang kita sebelum sampai ke tempat tujuan. Apa-apa yang telah kita persiapkan untuk hidup dan tinggal selama-lamanya di Kota Akhirat.

Ah, Kawan, saya tidak sedang bersenda gurau atau bermain-main. Justru saya sangat serius, yaa sangat serius.

Itulah salah satu asbab saya menulis-nulis dalam blog ini. Tentunya harapannya agar ia menjadi bagian dari renungan pemikiran kiranya kita kembali dapat membongkar isi tas perbekalan akherat berupa keyakinan-keyakinan, konsep-konsep kehidupan, dan pandangan-pandangan yang akan membantu kita meluruskan iman dan menggairahkan amal shaleh kita. Selamat bergabung kawan!!!

Selasa, 02 Maret 2010

Buat Apa Sekolah ?

Abu Rayhan


Kalau pertanyaan tersebut di atas kita ajukan kepada orang-orang jaman sekarang maka sudah dapat dipastikan mereka insya Allah akan menjawab : “Kok hari gini, masih ada pertanyaan seperti itu, apa kata dunia ? Wajar, memang wajar orang akan merasa heran dan kaget kalau ada orang bertanya buat apa sekolah ?

Tentu orang akan merasa tertimpa kilat di siang bolong. Mengapa tidak ? Bukankah sekolah itu harga mati untuk hidup jaman sekarang. Tidak sekolah berarti mati. Yaa seolah-olah kalau seorang tidak sekolah maka dikatakan suram masa depannya. Kalau seorang anak kita tidak bisa lanjut sekolahnya maka dikatakan masa depan itu sudah terenggut dan tiada lagi harapan yang tersisa. Itulah salah satu sebab kalau seorang gadis nikah waktu masa usia sekolah maka seolah-olah masa depan anak itu sudah hilang. Meskipun kalau kita usil sesungguhnya apakah masa depan itu dan kapan saatnya tiba, maka orang – orang juga akan kelabakan menjawabnya. Hal itu terjadi karena orang-orang terbiasa hidup dengan terperangkap dalam mitos-mitos kebenaran.

Apa yang saya katakan di atas menjadi kenyataan ketika suatu ketika saya bertaya kepada santri di pesantren tempat di mana saya mendidik (insya Allah). Ketika saya bertanya kepada mereka, buat apa sekolah ? Mereka tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut saya. Seakan-akan mereka berkata lhok, Pak Guru sendiri kan sekolah. Masa nanya lagi. Betul saya memang sekolah. Yaa sekolah formal mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Malah saya mengatakan kepada orang tua saya dahulu waktu saya masih di SD, kalau saya tak sekolah maka saya tak bisa karena saya tidak kuat bertani seperti ini. Saya ingat waktu itu kira-kira tahun 1977. Saya mencangkul sudut sawah yang hendak ditanami padi. Karena tubuh saya lemah sehingga kalau mencangkul tida mantap. Maka air sawah yang bercampur kotoran itu keciprat ke mata saya. Spontan saya mengatakan, kalau saya tak sekolah maka susah hidup saya ini. Tentu saja yang saya maksud sekolah formal.

Betullah santri katakan, Pak Guru sendirikan sekolah. Tidak akan bisa berdiri di depan kelas kalau tidak sekolah kan. Iya, iya. Tapi buat apa sekolah ?

Sederetan jawaban sudah antri yang menjadi alasan mengapa orang sekolah. Justru alasan inilah yang kita akan lihat nanti sebab dalam hidup ini khususnya dalam ajaran Islam dikatakab bahwa setiap perbuatan tergantung pada niatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar