Selamat Bergabung Kawan

Kawan yang Mulia

Kita manusia laksana ibarat penumpang yang sedang berada dalam sebuah Pesawat Terbang Super Canggih bernama "Dunia Air" yang sementara terbang dengan sangat cepat menuju tempat tujuan kita sesungguhnya bernama Kota Akhirat.

Oleh karena itu, mari kembali memeriksa perbekalan yang kita sebelum sampai ke tempat tujuan. Apa-apa yang telah kita persiapkan untuk hidup dan tinggal selama-lamanya di Kota Akhirat.

Ah, Kawan, saya tidak sedang bersenda gurau atau bermain-main. Justru saya sangat serius, yaa sangat serius.

Itulah salah satu asbab saya menulis-nulis dalam blog ini. Tentunya harapannya agar ia menjadi bagian dari renungan pemikiran kiranya kita kembali dapat membongkar isi tas perbekalan akherat berupa keyakinan-keyakinan, konsep-konsep kehidupan, dan pandangan-pandangan yang akan membantu kita meluruskan iman dan menggairahkan amal shaleh kita. Selamat bergabung kawan!!!

Rabu, 14 Oktober 2009

Keliru Memahami Pesan

Abu Rayhan Al-Biruni

Beberapa hari yang lalu tepatnya hari Jum’at , 9 Oktober 2009 - Senin, 12 Oktober 2009 saya berada di Mesjid Nipa, Dusun Tanete, Simbang dalam rangka ikut program da’wah silaturrahim ke desa-desa di Kabupaten Maros yang dianjurkan oleh Bupati Maros H. A. Najamuddin Aminullah. Ada sebuah kejadian kecil yang saya alami saat itu yaitu pada hari Sabtu pagi 10 Oktober 2009 saya hendak mandi bersama anak saya Fauzan. Pada waktu mau ke tempat mandi, saya suruh dia untuk menyimpan dulu buku saya yang ada di teras mesjid. Saya katakana : “Fauzan ambil dan simpan buku itu sambil saya berangkat duluan. Ketika Fauzan menyusul, saya kaget dan mengatakan : “ Lho buku dibawah? Fauzan dengan cepat menjawab : “Kan tadi Bapak suruh.” Saya diam dan berkata dalam hati yaa tidak ada yang salah. Hanya saja telah terjadi miscommunication atau istilah saya keliru paham.

Tentu maksud saya tadi agar Fauzan menyimpan buku ke dalam masjid. Namun Fauzan memahami ambil buku dan simpan dalam tangannya dan di bawa serta ke tempat mandi juga memang biasa menjadi kebiasaan saya dahulu. Ke mana pergi saya bawa buku.

Kemudian seusai mandi kami bersegara ke Masjid untuk mengikuti program ta’lim. Sebelum ta’lim saya ingin makan kurma. Jadi kembali saya menyuruh anak saya mengambilkan saya kurma. Saya katakana : “Ambilkan saya sebiji kurma”. Karena lama rasanya menunggu kurma itu jadi saya mendekat ke Fauzan. Saya tanya Fauzan mana kurmanya ? Fauzan memberi saya sebiji kurma, yaa benar bijinya kurma setelah daging kurmanya diambil. Saya katakan Fasuzan, maksud saya sebiji kurma itu adalah satuh buah kurma lengkap dengan dagingnya, bukan bijinya yang saya minta. Kata sebiji itu adalah satuan dari bilangan buah kurma. Sama halnya kalau dikatakan sekor sapi bukan berati hanya ekor sapi yang dimaksud tetapi satu sapi lengkap mulai ekornya sampai tanduknya. Adapun kata seekor itu juga adalah satuan bilangan dari binatang yang kita inginkan. ”Yaa, ya, yaa. Saya mengerti, Kata Fauzan.

Dari peristiwa di atas saya mendapatkan pelajaran dari anak saya Fauzan bahwa :

Betapa pentingnya kita membuat sebuah pernyataan yang lengkap dan sesuai dengan tingkat kepahaman pendengar.
Betapa makna pesan yang kita itu kadang tidak sampai kepada si penerima pesan dengan baik karena berbagai rintangan, antara lain konteks yang ada ketika pesan itu dinyatakan.

Ada beberapa konteks yang mempengaruhi makna kata yang kita ucapkan bagi pendengar antara lain :
a) Konteks Linguistik = tempat kata diantara kalimat, misalnya kata emas bermakana sayang pada kalimat ”Rayhan anak emas”. Namun kata emas akan bermakna baik bahkan amat baik pada kalimat , Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju pembangunan bangsa”.
b) Konteks Situasional = Situasi ketika kata itu diucapkan, misalnya kata fat yang bermakna gemuk boleh jadi menjadi dimaknai dengan pakaian yang berwarna warni buka seorang anak kecil. Situasinya adalah ketika seorang tamu perempuan gemuk masuk ke dalam rumah seseorang. Maka tuan rumah mengatakan kepada tamunya : ”You are so fat now. Tetapi putri kecil berumur 3 tahun tuan rumah mengartikan bahwa kata fat itu bermakan warna-warni penuh bunga karena anak itu memang lebih tertarik pada pakaian wanita itu yang bermotof bunga.
c) Konteks Kejiwaan = Kondisi kejiwaan seseorang akan mempengaruhi makna kata yang didengarnya. Misalnya ketika seseorang menyuruh anaknya berhenti bersekolah karena sedang marah kepada anak yang malas belajar. Maka sesungguhnya yang dimaksud oleh ibu adalah agar anaknya rajin belajar.
d) Konteks Kultural = Kultur akan berpengaruh terhadap makna sebuah kata. Misalnya, kata babi dalam kultur orang bugis boleh jadi bermakna penghinaan dan dalam kultur orang Barat babi itu justru penghargaan.

Tentu saja masih ada konteks lain yang berpengaruh terhadap makna sebuah kata atau pesan yang disampaikan kepada orang lain. Oleh karena itulah kita dapat memaklumi bila tafsiran berbeda-beda akan terjadi pada sebuah teks termasuk di dalamnya memahami teks suci Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah SAW. Tentu saja untuk memahami teks Al-Qur’an dan Hadist maka kita bertanya kepada ulama yang telah membelanjakan umurnya untuk memahami teks suci tersebut. Wallahu A’lam bi Sawab.

Selasa, 13 Oktober 2009

BUAH BELIMBING : JANGAN DIPETIK !

oleh Takuddin Rahimi



Beberapa waktu waktu lalu, tepatnya pada bulan Ramadhan 1430 H. Saya mengalami sebuah pengalaman yang unik dan mengejutkan. Betapa tidak, satu malam saya membutuhkan buah belimbing untuk saya jadikan lalapan penyedap ikan goreng waktu makan malam. Selera makan saya akan bertambah manakala makan disertai dengan buah belimbing. Biasanya kalau saya butuh buah belimbing saya petik dari pohon belimbing tetangga dan tentunya saya sudah minta izin sebelumnya. Tetapi malam itu tuan rumah pemilik pohon belimbing lagi pulang kampung untuk lebaran. Jadi saya tidak bisa minta izin kepadanya. Pikiran saya bekerja dengan sederhana. Ah- tidak apa-apa saya petik saja sedikit buah belimbing itu. Sama saja ada atau tidak ada tuan rumah. Bukankah kalau dia ada juga akan mengizinkan saya sebagaimana sebelumnya. Atau saya bisa saja melaporkan kepadanya kalau dia pulang dari kam pung. Begitulah fikiran saya saat itu.

Lagi pula saya pernah mendengarkan petuah guru saya waktu SD dahulu bahwa kalau kita memetik buah dari pohon yang bukan milik kita ala kadarnya, itu bukan termasuk mencuri apalagi kalau di Kampung itu telah menjadi kebiasaan yang dimaklumi.

Pada saat saya mengulurkan tangan untuk memetik buah belimbing itu, tiba-tiba dari belakang terdengar suara tegas dan menggelegar. ”Bapaaak!!!” Jangaaaan. Haroaaaam mengambil buah itu tanpa izin pemiliknya. Itu namanya mencuri.” Saya tersentak, tangan saya berhenti tak bergerak dan jatuh lunglai. Saya balik ke belakang ke arah suara itu. Saya lihat anak saya Haidar dengan muka serius kemudian berubah perlahan senyum dan mengatakan dengan lembut Pak, haram mengambil barang orang tanpa izin.

Awalnya saya ingin membela diri. Tetapi syukurlah suara hatiku mengatakan jangan bantah perkataan anak itu. Saya ucapkan alhamdulillah, suara hati kejujuran anak saya berfungsi dengan baik. Alhamdulillah, Haidar yang sekarang (tahun 2009) sedang duduk di kelas III di bangku sekolah SD Islam Terpadu Al-Hikmah Maros telah menyelamatkan saya dari perbuatan yang hina, mencuri, yaa mencuri. Satu perbuatan hina bagi orang-orang yang beradab. Terima kasih anakku, terima yaa Allah, Engkau telah mencurahkan hidayah kebenaran lewat bocah kecil ini. Semoga dia tumbuh berkembang menjadi mahlukmu yang langka di zaman ini. Menjadi orang yang jujur, insya Allah.