Setamat SMP Neg.3 Watampone saya melajutkan pendidikan ke SMA Neg. 1 Watampone. Sebagaimana masuk SMP sama dengan masuk SMA yakni melalui ujian saringan. Alhamdulillah saya lulus murni masuk SMA sebagaimana masuk SMP sebelumnya. Ada rasa bangga masuk SMA neg.1 karena setahu saya orang lulus ujian masuk sma merupakan sebuah ukuran prestasi yang baik. Memang saya berhasil menduduki rangking di SMP Neg. 3 Watampone. Seingat saya kadang rangking 1 dan kadang pula rangking 3. Semuanya itu membuat saya senang karena benar - benar nilai saya dapatkan dengan jujur dan kemampuan sendiri yang tentunya melalui perjuangan yang sungguh - sungguh. Waktu itu, tahun 80an benar - benar bagi saya sekolah adalah lembaga pendidikan yang mendidik anak - anak untuk menjadi pintar, jujur, dan bertanggungjawab. Seperti saya katakan sebelumnya bahwa dalam benak saya sekolah itu serba benar dan baik. Entah karena tidak ada media massa, seperti TV, Radio, dan Surat Kabar atau sebagai orang desa saya belum mengenal semua itu, sehingga pikiran saya bersih dari berita - berita yang tidak menggembirakan seperti saat ini. Bila saya ingat waktu saya sekolah dahulu maka mirip dengan pelakon pelakon yang ada di film Laskar Pelangi sekarang.
Apakah memang tidak ada kejadian buruk terjadi selama sekolah waktu SD, SMP, dan SMA ? Tentu ada, namun peristiwa itu tidak menjadi masalah yang berkembang sekurang kurangnya untuk saya sendiri. Bagi saya kejadian- kejadian itu tak lebih dari pada bumbu masakan agar lebih enak. Mengapa ? Karena pada umumnya guru memang profesional dibidangnya masing - masing. Mereka tampak menguasai pembelajarannya, mereka tampak ikhlas, dan mereka memiliki perhatian sungguh sungguh kepada anak didiknya. Mereka tidak termasuk orang yang terjebak menjadi guru sebagaimana istilan DR. Saleh Muntasir. Maksudnya orang yang sesungguhnya tidak berbakat dan tidak berminat jadi guru, tetapi karena tuntutan pekerjaan dan ada memberi peluang mereka menjadi guru baik karena memang mereka tamat pada sekolah guru, jurusan pendidikan guru, ataupun dari jurusan lain. Demikian pula waktu itu tak terdengar berita berita korupsi, pungli, dan penyelewengan dari pihak sekolah. Sehingga guru - guru pada umumnya khususnya kepala sekolah terkesan amat berwibawa. Saya ingat Kepala SMA Neg 1 saat itu M.Idris Pakki, Kepala SMP Neg.3 Abd. Jabbar, BA., dan Kepala SD neg. 42 Waetuwo PAK ALWI kemudian Pak Syukri,kesemuanya terkesan berwibawa sehingga sekolah tampak dapat berjalan dengan baik.
Alhamdulillah, saya masuk SMA Neg. 1 Watampone tahun 1981 dan tamat 1984 pada Jurusan IPA. Lagi - lagi saya memilih jurusan IPA melalui seleksi yang ketat. Belajar di SMA terasa lebih berat dibanding dengan SD dan SMP. Saya mesti belajar lebih rajin sewaktu SMA. Ada 4 mata pelajaran yang terasa agak berat waktu SMA yakni mata pelajaran IPA itu sendiri : Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia. Meskipun saya sendiri masih memiliki kompetensi yang baik khususnya pada Ilmu Kimia dan Ilmu Hayat (Biologi). Adapun untuk mata pelajaran matematika dan fisika khususnya sewaktu kelas 3 saya hanya dapat mencapai rata rata cukup baik yakni nilai murni 7.
Setelah diadakan ujian evaluasi belajar tahap akhir sekolah tahun1984, Alhamdulillah saya lulus murni tanpa sedikitpunn kecurangan seperti menyontek atau jawaban dibocorkan oleh pengawas. Yaa, memang ketika itu mulai SD sampai SMA bahkan lanjut sampai ke Perguruan Tinggi saya senantiasa mengikuti ujian dengan sungguh- sungguh disertai persiapan yang serius pula. Sebab bagi saya kelulusan itu tentu amat bergantung kepada kebenaran jawaban. Bagi saya tidak ada istilah lulus ujian karena dilulus - luluskan. Dengan kata lain saya tidak mengenal nilai kulantu, nilai jadi - jadian, nilai karena ada hadiah, dan atau kedekatan dengan guru atau dosen. Bagi saya nilai benar benar mencerminkan tingkat kompetensi seorang siswa. bersambung ...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar