Ah terlalu banyak memori aku lupakan sewaktu masih belajar di bangku SMA dahulu. Yaa kini tahun 2010. Saya tamat SMA tahun 1984 yang lalu. Rentang waktu kurang 30 tahun membuat saraf saraf saya agak lupa sebagian peristiwa peristiwa yang lalui dalam alur sejarah hidup yang sangat indah ini. Berkali kali saya katakan bahwa sembah sujudku kepada Allah, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberiku alur perjalan kehidupan yang berliku - liku sama halnya dengan jalan raya berliku yang sering kulalui dari tanah bone ke tanah makassar ini. jalan raya berliku dari bone ke makassar juga telah melukis sebagian lukisan jiwaku yang indah ini. mulai dari jalanan bentuk nomor delapan di sumpa labu, jalanan yang terjal naik dan turun sambil diiringi dengan belokan tajam dengan jurang dalam mengangah di samping kiri kanan memebntuk jiwaku agar saya mengerti bahwa hidup ini tidaklah monoton tidak pula sederahana. Tetapi hidup ini demikian dinamis dan penuh onak dan duri sebagaimana kata Ustad Zainuddin MZ.
Begitulah model jalan dari bone ke makassar. Dari Sumpa Labu terus ke Tompo Ladang menuju Mallawa Maros sampai ke Camba, Elle Kappang, dan akhirnya tiba ke Bantimurung. Kemudian tiba ke Maros. Barulah setelah itu kita sampai ke Makassar ( ibu kota Sulawesi Selatan). Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi model jalan raya yang berliku, naik dan turun, kemudian dhibur dengan jurang yang dalam dan ganas.
Begitulah struktur jalan raya Bone - Makassar telah membentuk model jiwaku pula. Ah mirip benar dengan perjalanan hidupku yang memiliki rute yang berliku, naik dan turun, serta ada banyak pula jurang di samping kiri dan kananku. Wahai Allah yang Maha Bijak, terima kasih atas semua ini, Saya ridho atas apa yang engkau tlah tetapkan atas hidupku ini. Saya tak akan pernah sedih dan berduka, saya pun tidak akan pernah lelah memohon pada-Mu, karena saya percaya, engkau Maha Benar Janji-Mu. Selama Engkau tidak marah pada saya maka sudah bahagia karena-Nya. 3
Saya yakin apapun saya alami dan di manapun saya ditempatkan di bumi ini, Engkau senantiasa telah mempersiapkan perlindungan untuk diri saya. Itulah keyakinan yang membuat hidup ini senantiasa tenang, aman, damai, dan sejahtera.
Kembali kepada memori masa lalu. Saya termasuk seorang siswa yang tidak banyak bertanaya tentang di luar diri saya. Sebab entah karena keluguan masa lalu, saya tidak mengenal kosakata prasangka buruk pada apa yang di luar diri saya. Semuanya baik. Yaa baik, lingkungan baik, guru baik, teman baik, orang tua baik, saudara baik. Jadi yang saya pikirkan hanya satu. Saya mau sekolah, saya mau belajar, dan saya mau tuntut ilmu. Mengapa, saya mau berubah. Saya mau ubah kondisi sosial saya. Dari orang tidak tahu menjadi orang yang tahu. Dari orang yang serba kekurangan menjadi orang yang berkecukupan. Cukup ilmu, cukup rezki, cukup iman, dna cukupa akhlaknya. Hinnga dengan demikian ini hidup ini bisa diolah menjadi taman taman sorga yang insya Allah kelak dapat dipetik hasilnya dalam sorga nanti.
Maka dari itulah saya sangat serius dalam belajar. Belajar di malam hari, subuh, dan siang hari di sekolah. Kalau tida ada guru maka carilah saya di perpustakaan sekolah. Kalau sore telah tiba sambil menuntun sapi ke sawah sawah maka carilah saya di bawah pohoon kayu atau di atas pohon kayu. Di situ saya sedang membaca buku buku sambil nyanyi kecil menghibur diri. Indah benar alam ini, ia memberiku apa yang kumau. Waktu itu pemahamanan saya masih sederhana. Saya hanya paham bahwa alam ini indah, baik, dan memberi apa yang kita butuhkan titik.
Bila malam telah tiba seusai isya maka ambil lagi buku buku kadang belajar sendiri kadang pula belajar bersama dengan teman teman sekelas di kampung. Hampir hampir saya hafal benar isi buku buku pelajaran itu. Sampai hari ini masih ada tinggal sedikit tentang memori itu khususnya dalan ilmu kimia dan ilmu hayat (Biologi). Alhamdulillah ilmu itu juga terasa mamfaatnya sampai sekarang meskipun ketika kuliah saya ambil jurusan Sastra Inggris di Unhas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar