Selamat Bergabung Kawan

Kawan yang Mulia

Kita manusia laksana ibarat penumpang yang sedang berada dalam sebuah Pesawat Terbang Super Canggih bernama "Dunia Air" yang sementara terbang dengan sangat cepat menuju tempat tujuan kita sesungguhnya bernama Kota Akhirat.

Oleh karena itu, mari kembali memeriksa perbekalan yang kita sebelum sampai ke tempat tujuan. Apa-apa yang telah kita persiapkan untuk hidup dan tinggal selama-lamanya di Kota Akhirat.

Ah, Kawan, saya tidak sedang bersenda gurau atau bermain-main. Justru saya sangat serius, yaa sangat serius.

Itulah salah satu asbab saya menulis-nulis dalam blog ini. Tentunya harapannya agar ia menjadi bagian dari renungan pemikiran kiranya kita kembali dapat membongkar isi tas perbekalan akherat berupa keyakinan-keyakinan, konsep-konsep kehidupan, dan pandangan-pandangan yang akan membantu kita meluruskan iman dan menggairahkan amal shaleh kita. Selamat bergabung kawan!!!

Rabu, 09 Desember 2009

Sungguh akan Kami Berikan Cobaan Kepadamu

Din Rahimi


Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar menghadapinya.

Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berdo'a: "Ya Tuhan kami, jangnlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya..."(QS 2: 286)

Do'a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah. Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke "orang pintar" agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke "kursi" yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sadaqoh.

Al-Qur'an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: "Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2: 155)

Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah....tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, "yah..sabar kan ada batasnya..." Atau lidah kita berseru, "sabar sih sabar...saya sih kuat tidak makan enak, tapi anak dan isteri saya?" Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.

Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". (Qs 2: 156)

Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat "Inna lillahi...." Orang sabar-kah kita? Nanti dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.

Arti kalimat itu adalah : "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali." Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Qur'an!

Ikhlaskah kita bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila proyek yang sudah didepan mata, tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dna diberikan kepada saingan kita. Berubah menjadi dengki-kah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru, mobil baru atau malah istri baru. Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.... Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur'an: "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berkata: "Siapa yang tak rela menerima ketentuan-Ku, silahkan keluar dari bumi-Ku!"

Subhanallah..... "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"

Minggu, 29 November 2009

Yang Patut Kita Cemaskan

Banyak orang cemas akan datangnya hari kiamat sebagaiaman yang diisyaratkan dalam film 2012. Film tersebut dib uat berdasarkan ramalan Suku Maya di Guetamala sekarang. Berdasarkan ramalan suku tersebut dunia akan mengalami becana besar atau serupa dengan kiamat pada tangga 21 -12 -2012.

Sebelumnya juga ada ramalan dunia akan kiamat pada tanggal 3-3-2003 dan 9-9-2009. Meskipun ramalan itu tidak terbukti. Meskipun sebenarnya menurut ajaran Islam, Kiamat itu memang akan terjadi tetapi kepastian waktunya hanya Allah SWT yang tahu. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak mengetahui dengan pasti. Yang pasti hanyalah tanda-tandanya, baik tanda-tand kecil maupun tanda-tanda besar.

Sebenarnya ada hal utama yang patut kita cemaskan yakni musibah tercerabutnya iman dalam rumah tsngga kita sendiri. waspadalah.

Rabu, 14 Oktober 2009

Keliru Memahami Pesan

Abu Rayhan Al-Biruni

Beberapa hari yang lalu tepatnya hari Jum’at , 9 Oktober 2009 - Senin, 12 Oktober 2009 saya berada di Mesjid Nipa, Dusun Tanete, Simbang dalam rangka ikut program da’wah silaturrahim ke desa-desa di Kabupaten Maros yang dianjurkan oleh Bupati Maros H. A. Najamuddin Aminullah. Ada sebuah kejadian kecil yang saya alami saat itu yaitu pada hari Sabtu pagi 10 Oktober 2009 saya hendak mandi bersama anak saya Fauzan. Pada waktu mau ke tempat mandi, saya suruh dia untuk menyimpan dulu buku saya yang ada di teras mesjid. Saya katakana : “Fauzan ambil dan simpan buku itu sambil saya berangkat duluan. Ketika Fauzan menyusul, saya kaget dan mengatakan : “ Lho buku dibawah? Fauzan dengan cepat menjawab : “Kan tadi Bapak suruh.” Saya diam dan berkata dalam hati yaa tidak ada yang salah. Hanya saja telah terjadi miscommunication atau istilah saya keliru paham.

Tentu maksud saya tadi agar Fauzan menyimpan buku ke dalam masjid. Namun Fauzan memahami ambil buku dan simpan dalam tangannya dan di bawa serta ke tempat mandi juga memang biasa menjadi kebiasaan saya dahulu. Ke mana pergi saya bawa buku.

Kemudian seusai mandi kami bersegara ke Masjid untuk mengikuti program ta’lim. Sebelum ta’lim saya ingin makan kurma. Jadi kembali saya menyuruh anak saya mengambilkan saya kurma. Saya katakana : “Ambilkan saya sebiji kurma”. Karena lama rasanya menunggu kurma itu jadi saya mendekat ke Fauzan. Saya tanya Fauzan mana kurmanya ? Fauzan memberi saya sebiji kurma, yaa benar bijinya kurma setelah daging kurmanya diambil. Saya katakan Fasuzan, maksud saya sebiji kurma itu adalah satuh buah kurma lengkap dengan dagingnya, bukan bijinya yang saya minta. Kata sebiji itu adalah satuan dari bilangan buah kurma. Sama halnya kalau dikatakan sekor sapi bukan berati hanya ekor sapi yang dimaksud tetapi satu sapi lengkap mulai ekornya sampai tanduknya. Adapun kata seekor itu juga adalah satuan bilangan dari binatang yang kita inginkan. ”Yaa, ya, yaa. Saya mengerti, Kata Fauzan.

Dari peristiwa di atas saya mendapatkan pelajaran dari anak saya Fauzan bahwa :

Betapa pentingnya kita membuat sebuah pernyataan yang lengkap dan sesuai dengan tingkat kepahaman pendengar.
Betapa makna pesan yang kita itu kadang tidak sampai kepada si penerima pesan dengan baik karena berbagai rintangan, antara lain konteks yang ada ketika pesan itu dinyatakan.

Ada beberapa konteks yang mempengaruhi makna kata yang kita ucapkan bagi pendengar antara lain :
a) Konteks Linguistik = tempat kata diantara kalimat, misalnya kata emas bermakana sayang pada kalimat ”Rayhan anak emas”. Namun kata emas akan bermakna baik bahkan amat baik pada kalimat , Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju pembangunan bangsa”.
b) Konteks Situasional = Situasi ketika kata itu diucapkan, misalnya kata fat yang bermakna gemuk boleh jadi menjadi dimaknai dengan pakaian yang berwarna warni buka seorang anak kecil. Situasinya adalah ketika seorang tamu perempuan gemuk masuk ke dalam rumah seseorang. Maka tuan rumah mengatakan kepada tamunya : ”You are so fat now. Tetapi putri kecil berumur 3 tahun tuan rumah mengartikan bahwa kata fat itu bermakan warna-warni penuh bunga karena anak itu memang lebih tertarik pada pakaian wanita itu yang bermotof bunga.
c) Konteks Kejiwaan = Kondisi kejiwaan seseorang akan mempengaruhi makna kata yang didengarnya. Misalnya ketika seseorang menyuruh anaknya berhenti bersekolah karena sedang marah kepada anak yang malas belajar. Maka sesungguhnya yang dimaksud oleh ibu adalah agar anaknya rajin belajar.
d) Konteks Kultural = Kultur akan berpengaruh terhadap makna sebuah kata. Misalnya, kata babi dalam kultur orang bugis boleh jadi bermakna penghinaan dan dalam kultur orang Barat babi itu justru penghargaan.

Tentu saja masih ada konteks lain yang berpengaruh terhadap makna sebuah kata atau pesan yang disampaikan kepada orang lain. Oleh karena itulah kita dapat memaklumi bila tafsiran berbeda-beda akan terjadi pada sebuah teks termasuk di dalamnya memahami teks suci Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah SAW. Tentu saja untuk memahami teks Al-Qur’an dan Hadist maka kita bertanya kepada ulama yang telah membelanjakan umurnya untuk memahami teks suci tersebut. Wallahu A’lam bi Sawab.

Selasa, 13 Oktober 2009

BUAH BELIMBING : JANGAN DIPETIK !

oleh Takuddin Rahimi



Beberapa waktu waktu lalu, tepatnya pada bulan Ramadhan 1430 H. Saya mengalami sebuah pengalaman yang unik dan mengejutkan. Betapa tidak, satu malam saya membutuhkan buah belimbing untuk saya jadikan lalapan penyedap ikan goreng waktu makan malam. Selera makan saya akan bertambah manakala makan disertai dengan buah belimbing. Biasanya kalau saya butuh buah belimbing saya petik dari pohon belimbing tetangga dan tentunya saya sudah minta izin sebelumnya. Tetapi malam itu tuan rumah pemilik pohon belimbing lagi pulang kampung untuk lebaran. Jadi saya tidak bisa minta izin kepadanya. Pikiran saya bekerja dengan sederhana. Ah- tidak apa-apa saya petik saja sedikit buah belimbing itu. Sama saja ada atau tidak ada tuan rumah. Bukankah kalau dia ada juga akan mengizinkan saya sebagaimana sebelumnya. Atau saya bisa saja melaporkan kepadanya kalau dia pulang dari kam pung. Begitulah fikiran saya saat itu.

Lagi pula saya pernah mendengarkan petuah guru saya waktu SD dahulu bahwa kalau kita memetik buah dari pohon yang bukan milik kita ala kadarnya, itu bukan termasuk mencuri apalagi kalau di Kampung itu telah menjadi kebiasaan yang dimaklumi.

Pada saat saya mengulurkan tangan untuk memetik buah belimbing itu, tiba-tiba dari belakang terdengar suara tegas dan menggelegar. ”Bapaaak!!!” Jangaaaan. Haroaaaam mengambil buah itu tanpa izin pemiliknya. Itu namanya mencuri.” Saya tersentak, tangan saya berhenti tak bergerak dan jatuh lunglai. Saya balik ke belakang ke arah suara itu. Saya lihat anak saya Haidar dengan muka serius kemudian berubah perlahan senyum dan mengatakan dengan lembut Pak, haram mengambil barang orang tanpa izin.

Awalnya saya ingin membela diri. Tetapi syukurlah suara hatiku mengatakan jangan bantah perkataan anak itu. Saya ucapkan alhamdulillah, suara hati kejujuran anak saya berfungsi dengan baik. Alhamdulillah, Haidar yang sekarang (tahun 2009) sedang duduk di kelas III di bangku sekolah SD Islam Terpadu Al-Hikmah Maros telah menyelamatkan saya dari perbuatan yang hina, mencuri, yaa mencuri. Satu perbuatan hina bagi orang-orang yang beradab. Terima kasih anakku, terima yaa Allah, Engkau telah mencurahkan hidayah kebenaran lewat bocah kecil ini. Semoga dia tumbuh berkembang menjadi mahlukmu yang langka di zaman ini. Menjadi orang yang jujur, insya Allah.

Selasa, 17 Februari 2009

Makna Salam dan Kemajuan Bangsa

Drs. Takuddin

Ketika saya kuliah pada Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggeris di Universitas Hasanuddin tahun 80an saya pernah mendengarkan penjelasana salah satu dosen saya mengenai beberapa contoh ugkapa salam dari beberapa bangsa. Dosen saya mengatakan bahwa kata sapaan salam ketika seorang bertemu dengan yang lainnya ternyata berbeda dari bangsa ang satu dengan bangsa lain. Ungkapan salam itu ternyata pula amat berpengaruh terhadap karakter dan kultur bangsa tersebut. Lalu pada akhirnya karakter dan kultur bangsa itu akan membentuk watak bangsa tersebut, apakah dia bangsa yang maju atau tidak.
Coba perhatikan lanjut dosen saya itu. Apa yang dikatakan oleh orang Jepang kalau bertemu dengan kawannya. Mereka akan mengatakan : "Bagaiamana, ada perkembangan, ada perubahan?" Coba lihat orang Jepang itu selalu saja menanyakan perkembangan yang terjadi pada setiap kawan mereka ? Mereka memiliki karakter dan kultur belajar, kreatif, kerja keras, dan harga diri. Sehingga kita tidak heran kalau mereka maju seperti sekarang. Teknologi dan pengetahuan berkembang di sana. Demikian banyak produk Jepang bertebaran di negara kita, mulai dari mobil, alat elektronik, dan sampai kepada barang-barang lainnya. Konon ketika Jepang telah di bom oleh Amerika tahun 40 an maka yang pertama ditanyakan adalah masih adakah guru yang hidup. Jepang memiliki kultur belajar yang kuat dengan prinsip "Ambil yang baik, buang yang buruk dan ciptakan yang baru.
Lalu sekarang coba dengarkan apa kata orang cina kalau ketemu. Mereka akan mengatakan : "Sudahkah anda makan?" Mari kita ambil sisi baiknya, orang cina di negeri kita menguasai sistim perdagangan kita. Mereka pekerja dan pedagang yang ulet. Salah satu diantaranya karena mereka memiliki karakter untuk hidup sejahtera.
Dengar pula sapaan orang Eropa kalau ketemu, mereka akan mengatakan : "Apa khabar?" Mereka menanyakan kabar kesehatan. Mengapa dengan sehat mereka akan sanggup bekerja keras untuk menata dunia ini. Dengan semangat kapitalisme dan imperalisme mereka bangsa Eropa dan juga Amerika menguasai tata kelola global. Terlepas baik buruknya mentalitas mereka, kita telah menjadi bangsa yang selalu saja baru berkembang. Sebuah istilah halus dari negara terbelakang.
Mendengarkan uraian dosen saya, maka saya pikir ada benarnya uraian tersebut. Saya pikir bahwa warisan kultur bangsa kita adalah memiliki kultur yang maju. Mari kita gali dan kembangkan.


Apa Khabar Kawan

Abu Rayhan Al-Biruni


Satu hari saya bertemu dengan kawan lama saya. Sebagaimana biasanya saya menyapanya dengan ungkapan :"Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." Dia menjawab salam saya dengan damai dan tenang. Kemudian sebagaimana biasanya pula saya lanjutkan dengan sapaan :" Apa khabar?" Diapun menjawab :"Baik." Saya pun terus tanya bagaimana khabar ekonomi. politik, ibadah, dan rumah tangga?" Sambil senyum-senyum dia mengatakan kalau khabar ekonomi yaa senin-kamislah. Harap maklum kita ini PNS tingkat rendahlah. Gaji kita serba pas-pasan. Wah hebat itu, bagus itu. Kata saya. Diapun menimpali, bagus apaan ? Ya, mau makan pas ada, mau minum pas ada, mau beli mobil juga pas ada, dan bahkan mau naik haji pas ada. Nyeleneh kamu. Ndak, maksud saya itu. gaji saya hanya pas untuk makan minum sebulan dan sedikit untuk biaya sekolah anak-anak. Yaa kadang pula kurang jadi ngutang dulu di warung depan rumah.
Terus bagaimana dengan kabar politik ? Oh itu politik. Kita kan PNS yaa netralah. Bukan maksud saya gimana pandanganmu dengan suasana politik sekarang ini. Yaa saya hanya bisa berdo'a mudah-mudahan nanti para anggota DPR/DPRD /DPD sungguh dapat dipercaya dan diandalkan untuk mewakili rakyat di legeslatif demi keadilan dan kesejahteraan rakyat banyak.
Jangan seperti yang sudah-sudah, mereka itu justru bikin sibuk saja para jaksa da hakim. Eh kawan apa maksudmu ? Lha ia toh. Mereka itu kan sebagian korupsi, yaa sibuklah para hakim mengadili mereka. Oh gitu lho bang maksudnya.
Terus gimana kabar ibadahnya. Yaa baik-baik saja. Saya ini gini-gini masih shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan. Cuma yaa saya belum bisa tunaikan rukun Islam ketiga yaitu zakat dan rukun Islam yang kelima yaitu Naik Haji.
Mendengarkan ulasan kawan saya itu ya sebut saja namaya La Baco (samaran) hatiku jadi teriris dan mapesse (pedis) . Somoga saja para anggota DPR/DPRD/ DPD/ MPR / Pemerintah dan yang terkait dapat mewakili menjalankan tugasnya dengan benar dan baik sehingga perilaku korupsi dapat dihentikan. Sebab perilaku ini sungguh sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan melebihi kejahatan bajak laut dan teroris. Mereka dapat membunuh sebuah bangsa menjadi bangsa yang kerdil dan tak memiliki martabat lagi.
Apa khabar kawan ? Bila besok lusa kita bertemu kuharapa jawabanmu membuatku tersenyum bahagia seperti cerita dalam dongeng-dongeng.