Selamat Bergabung Kawan

Kawan yang Mulia

Kita manusia laksana ibarat penumpang yang sedang berada dalam sebuah Pesawat Terbang Super Canggih bernama "Dunia Air" yang sementara terbang dengan sangat cepat menuju tempat tujuan kita sesungguhnya bernama Kota Akhirat.

Oleh karena itu, mari kembali memeriksa perbekalan yang kita sebelum sampai ke tempat tujuan. Apa-apa yang telah kita persiapkan untuk hidup dan tinggal selama-lamanya di Kota Akhirat.

Ah, Kawan, saya tidak sedang bersenda gurau atau bermain-main. Justru saya sangat serius, yaa sangat serius.

Itulah salah satu asbab saya menulis-nulis dalam blog ini. Tentunya harapannya agar ia menjadi bagian dari renungan pemikiran kiranya kita kembali dapat membongkar isi tas perbekalan akherat berupa keyakinan-keyakinan, konsep-konsep kehidupan, dan pandangan-pandangan yang akan membantu kita meluruskan iman dan menggairahkan amal shaleh kita. Selamat bergabung kawan!!!

Senin, 29 Maret 2010

Maksud Dan Tujuan Sekolah 3

Setamat SMP Neg.3 Watampone saya melajutkan pendidikan ke SMA Neg. 1 Watampone. Sebagaimana masuk SMP sama dengan masuk SMA yakni melalui ujian saringan. Alhamdulillah saya lulus murni masuk SMA sebagaimana masuk SMP sebelumnya. Ada rasa bangga masuk SMA neg.1 karena setahu saya orang lulus ujian masuk sma merupakan sebuah ukuran prestasi yang baik. Memang saya berhasil menduduki rangking di SMP Neg. 3 Watampone. Seingat saya kadang rangking 1 dan kadang pula rangking 3. Semuanya itu membuat saya senang karena benar - benar nilai saya dapatkan dengan jujur dan kemampuan sendiri yang tentunya melalui perjuangan yang sungguh - sungguh. Waktu itu, tahun 80an benar - benar bagi saya sekolah adalah lembaga pendidikan yang mendidik anak - anak untuk menjadi pintar, jujur, dan bertanggungjawab. Seperti saya katakan sebelumnya bahwa dalam benak saya sekolah itu serba benar dan baik. Entah karena tidak ada media massa, seperti TV, Radio, dan Surat Kabar atau sebagai orang desa saya belum mengenal semua itu, sehingga pikiran saya bersih dari berita - berita yang tidak menggembirakan seperti saat ini. Bila saya ingat waktu saya sekolah dahulu maka mirip dengan pelakon pelakon yang ada di film Laskar Pelangi sekarang.

Apakah memang tidak ada kejadian buruk terjadi selama sekolah waktu SD, SMP, dan SMA ? Tentu ada, namun peristiwa itu tidak menjadi masalah yang berkembang sekurang kurangnya untuk saya sendiri. Bagi saya kejadian- kejadian itu tak lebih dari pada bumbu masakan agar lebih enak. Mengapa ? Karena pada umumnya guru memang profesional dibidangnya masing - masing. Mereka tampak menguasai pembelajarannya, mereka tampak ikhlas, dan mereka memiliki perhatian sungguh sungguh kepada anak didiknya. Mereka tidak termasuk orang yang terjebak menjadi guru sebagaimana istilan DR. Saleh Muntasir. Maksudnya orang yang sesungguhnya tidak berbakat dan tidak berminat jadi guru, tetapi karena tuntutan pekerjaan dan ada memberi peluang mereka menjadi guru baik karena memang mereka tamat pada sekolah guru, jurusan pendidikan guru, ataupun dari jurusan lain. Demikian pula waktu itu tak terdengar berita berita korupsi, pungli, dan penyelewengan dari pihak sekolah. Sehingga guru - guru pada umumnya khususnya kepala sekolah terkesan amat berwibawa. Saya ingat Kepala SMA Neg 1 saat itu M.Idris Pakki, Kepala SMP Neg.3 Abd. Jabbar, BA., dan Kepala SD neg. 42 Waetuwo PAK ALWI kemudian Pak Syukri,kesemuanya terkesan berwibawa sehingga sekolah tampak dapat berjalan dengan baik.

Alhamdulillah, saya masuk SMA Neg. 1 Watampone tahun 1981 dan tamat 1984 pada Jurusan IPA. Lagi - lagi saya memilih jurusan IPA melalui seleksi yang ketat. Belajar di SMA terasa lebih berat dibanding dengan SD dan SMP. Saya mesti belajar lebih rajin sewaktu SMA. Ada 4 mata pelajaran yang terasa agak berat waktu SMA yakni mata pelajaran IPA itu sendiri : Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia. Meskipun saya sendiri masih memiliki kompetensi yang baik khususnya pada Ilmu Kimia dan Ilmu Hayat (Biologi). Adapun untuk mata pelajaran matematika dan fisika khususnya sewaktu kelas 3 saya hanya dapat mencapai rata rata cukup baik yakni nilai murni 7.

Setelah diadakan ujian evaluasi belajar tahap akhir sekolah tahun1984, Alhamdulillah saya lulus murni tanpa sedikitpunn kecurangan seperti menyontek atau jawaban dibocorkan oleh pengawas. Yaa, memang ketika itu mulai SD sampai SMA bahkan lanjut sampai ke Perguruan Tinggi saya senantiasa mengikuti ujian dengan sungguh- sungguh disertai persiapan yang serius pula. Sebab bagi saya kelulusan itu tentu amat bergantung kepada kebenaran jawaban. Bagi saya tidak ada istilah lulus ujian karena dilulus - luluskan. Dengan kata lain saya tidak mengenal nilai kulantu, nilai jadi - jadian, nilai karena ada hadiah, dan atau kedekatan dengan guru atau dosen. Bagi saya nilai benar benar mencerminkan tingkat kompetensi seorang siswa. bersambung ...

Rabu, 17 Maret 2010

Maksud Dan Tujuan Sekolah 2

Din Rahimi

Tentu saja saya bersyukur saya sekolah. Ada banyak pelajaran dan pengalaman saya dapatkan dalam sekolah itu. Sebagaimana saya ungkapkan sebelumnya bahwa lewat sekolah itulah saya belajar membaca, berbahasa -Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Daerah -, dan belajar berhitung. Bahkan lewat sekolah itulah saya diperkenalkan Allah, tuhan semesta alam.

Itulah sebab mengapa setamat SD saya ngotot untuk melanjutkan pendidikanku ke SMP NEG. 3 Watampone. Saya masuk SMP tahun 1978 dan tamat tahun 1981. Di SMP itu bertemu dengan orang orang baru. Yaa guru baru, teman teman baru, pengalaman baru, cara hidup baru, dan juga lingkungan baru.

Kalau dahulu waktu SD, khususnya teman - teman semuanya berasal dari kampung sendiri kalau di SMP teman saya berasal dari banyak daerah di Kab. Bone. Demikian pula guru guru, berasal dari berbagai daerah di Kab. Bone. Kemudian pengalaman baru bertambah sejalan dengan bertambahnya umur. Demikian pula sebagai anak desa tahun 70 an tentu tidak sama dengan jaman sekarang. Dulu tinggal di desa identik dengan kegelapan di malam hari karena belum ada lampu listrik. Jalanan desa berlobang dan berbatu. Berkomunikasi dengan telpon identik dengan cara hidup orang kota. Pokoknya hidup di kota banyak berbeda dengan hidup desa. Orang kota tampaknya lebih bersih tubuhnya, lebih baik pakaiannya, rumahnya, dan lebih gaya bicaranya.

Orang kota tidak perlu menggembala sapi, tidak usah ke sawah untuk tanam padi, dan tidak usah juga turun ke hutan bakau untuk tangkap kepiting. Kalau mereka mau memenuhi kebutuhannya cukup mereka ke pasar. Entah apa kerja orang kota mereka memiliki banyak duit. Mereka ada banyak punya mobil, punya rumah mewah, dan perelengkapan hidup lainnya.

Demikianlah sekelumit pengalaman baru ketika saya lanjut SMP di kota watampone, menjumpai hal hal baru tadi.

Lingkungan baru dirasakan ketika belajar dengan kawan - kawan baru di dalam kelas. Cara belajarpun berbeda, kalau di sd kita kenal guru kelas. Dialah yang mengajarkan semua mata pelajaran, kecuali mata pelajaran agama dan seni. Di smp berbeda setiap mata pelajaran diajarkan oleh guru mata pelajaran. Kalau ada 10 mata pelajaran maka ada sepuluh guru mata pelajaran. Mereka bergantian masuk ke dalam kelas sesuai dengan mata pelajaran yang diasuhnya.

Saya menempuh pendidikan SMP Neg. 3 tahun lamanya. Apa yang saya peroleh selama menempuh pendidikan di SMP? Paling tidak ada kategori yang saya dapatkan , pertama pendidikan luar sekolah dan kedua pendidikan dalam sekolah. Pendidikan luar sekolah yang saya maksudkan adalah pertumbuhan dan kepribadian dan karakter sebagai respon terhadap pengalaman hidup yang diperoleh karena sekolah itu. Misalnya, Saya mesti bersabar menempuh perjalanan kurang lebih 13 km pulang balik dengan memakai sepeda besar dengan jalanan yang kurang mulus, khususnya sebelum tiba di kota. Saya mesti tegar kalau sering- sering jalan kaki di malam hari sepulang dari sekolah bila tidak ada lagi kendaraan umum atau pribadi ke kampung, baik berupa angkot /angdes, dokar, motor, dan sepeda. Besambung.......

Minggu, 07 Maret 2010

MAKSUD DAN TUJUAN SEKOLAH


Kembali saya lanjutkan pertanyaan beberapa hari yang lalu, buat apa sekelah. Ketika pertanyaan itu kita ucapkan maka spontan orang-orang akan menjawab :

a. Saya sekolah karena saya mau pintar

b. Saya sekolah karena saya mau mengejar impian saya

c. Saya sekolah karena demi masa depan saya yang bahagia

d. Saya sekolah karena saya mau bekerja

e. Saya sekolah agar saya bisa menjadi orang

f. Saya sekolah agar saya dapat hidup dengans sukses.

g. Saya sekolah saya agar saya memiliki derajat kehormatan, status, dan kewibawaan.

h. Saya sekolah agar saya dapat turut serta membangun kampung saya / negeri saya

i. Saya sekolah agar saya dapat seperti om saya, bapak saya, dan atau orang-orang yang saya idolakan.

So what ? Jadi apa yang salah ? Semua jawaban tersebut sama dengan jawaban sebagian santri-santri atau mahasiswa yang ditanya buat apa sekolah. Saya sendiri waktu masih SD dahulu. Buat apa saya sekolah ? Entah bagaimana awal mulanya saya tertarik mau sekolah. Apakah bersekolah itu telah menjadi tradisi atau suatu keperluan yang memang demikian adanya.

Yang saya ingat bahwa ketika berumur sekitar 6 tahun, yakni pada tahu 1972. Saya melihat teman-teman sebaya masing-masing berangkat ke sekolah. Ada yang bergembira ada pula yang tampak rona wajah yang cemas. Saya melihat orang-orang sekampung saya sekolah. Alangkah gagahnya mereka. Guru-guru di sekolah demikian berwibawa. Mereka demikian terhormat.

Hari-hari pertama saya menginjakkan kaki di pintu gerbang sekolah SD Neg. 42 Waetuwo bergetar hati saya. Dalam benak saya menari-nari harapan saya mau sekolah saya mau pintar. Namur saya tidak tahu apa sesungguhnya dipelajari dalam sekolah itu. Yang saya tahu guru itu baik dan pintar. Sungguh saya termasuk anak yang tidak memiliki angan-angan yang jauh. Ketika itu saya belum tahu sesungguhnya apa yang saya ingin capai dalam sekolah. Saya masih berumur 6 tahun. Boleh jadi hanyalah naluri atau semacam instink yang mendorong saya untuk sekolah.

Semua titah dan tutur guru saya ta’ati saya turuti 100% tanpa bantahan sedikitpun. Bagi saya sekolah adalah tempat menerima segala kebaikan dan kebenaran. Guru-guru adalah sumber dan teladan bagai saya. Mereka sumber ilmu dan teladan akhlak bagi saya. Dari merekalah saya mengenal huruf-huruf a b c d e f..... Dari mereka saya belajar menghitung 1 2 3 4 5 6 dan seterusnya. Dari guru-guru itulah saya belajar perkalian, tambah, bagi, dan perkurangan dalam ilmu berhitung.

Di sekolah itulah kemudian saya belajar bahasa Indonesia, Ilmu tentang Bumi, Ilmu Hewan, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, dan Ilmu Sejarah. Juga dari Guru Agamaku Saya belajar Ilmu Agama.

Namun demikian ada pula orang-orang dikampungku menentang sekolah. Kata mereka sekolah boros. Sekolah itu membuat anak-anak menjadi malas membantu orang tua di sawah. Bersekolah itu memperlambat anak-anak jadi dewasa. Sekolah itu mengisi hati anak-anak dengan ajaran-ajaran kultur orang Barat yang menganut paham kebebasan.

Malah ada lagi yang lebih ekstrim. Mereka memplesetkan sekolah itu seperti : SD artinya anak-anak mulai SI ODO ODO = baku intip baku colek laksana binatang kera; SMP artinya anak –anak mulai SIEMPE-EMPE = baku panjat baku peluk; dan SMA artinya remaja mulai SIEMMAU = baku cium; dan KULIAH artinya pemuda dan pemudi lanjut senantiasa baku lihat-lihat tanpa batas yang wajar. Wah ngeri banget kalau membayangkan isi pikiran mereka.

Kalau demikian sesungguhnya apa maksud dan tujuan sekolah ?

Selasa, 02 Maret 2010

Buat Apa Sekolah ?

Abu Rayhan


Kalau pertanyaan tersebut di atas kita ajukan kepada orang-orang jaman sekarang maka sudah dapat dipastikan mereka insya Allah akan menjawab : “Kok hari gini, masih ada pertanyaan seperti itu, apa kata dunia ? Wajar, memang wajar orang akan merasa heran dan kaget kalau ada orang bertanya buat apa sekolah ?

Tentu orang akan merasa tertimpa kilat di siang bolong. Mengapa tidak ? Bukankah sekolah itu harga mati untuk hidup jaman sekarang. Tidak sekolah berarti mati. Yaa seolah-olah kalau seorang tidak sekolah maka dikatakan suram masa depannya. Kalau seorang anak kita tidak bisa lanjut sekolahnya maka dikatakan masa depan itu sudah terenggut dan tiada lagi harapan yang tersisa. Itulah salah satu sebab kalau seorang gadis nikah waktu masa usia sekolah maka seolah-olah masa depan anak itu sudah hilang. Meskipun kalau kita usil sesungguhnya apakah masa depan itu dan kapan saatnya tiba, maka orang – orang juga akan kelabakan menjawabnya. Hal itu terjadi karena orang-orang terbiasa hidup dengan terperangkap dalam mitos-mitos kebenaran.

Apa yang saya katakan di atas menjadi kenyataan ketika suatu ketika saya bertaya kepada santri di pesantren tempat di mana saya mendidik (insya Allah). Ketika saya bertanya kepada mereka, buat apa sekolah ? Mereka tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut saya. Seakan-akan mereka berkata lhok, Pak Guru sendiri kan sekolah. Masa nanya lagi. Betul saya memang sekolah. Yaa sekolah formal mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Malah saya mengatakan kepada orang tua saya dahulu waktu saya masih di SD, kalau saya tak sekolah maka saya tak bisa karena saya tidak kuat bertani seperti ini. Saya ingat waktu itu kira-kira tahun 1977. Saya mencangkul sudut sawah yang hendak ditanami padi. Karena tubuh saya lemah sehingga kalau mencangkul tida mantap. Maka air sawah yang bercampur kotoran itu keciprat ke mata saya. Spontan saya mengatakan, kalau saya tak sekolah maka susah hidup saya ini. Tentu saja yang saya maksud sekolah formal.

Betullah santri katakan, Pak Guru sendirikan sekolah. Tidak akan bisa berdiri di depan kelas kalau tidak sekolah kan. Iya, iya. Tapi buat apa sekolah ?

Sederetan jawaban sudah antri yang menjadi alasan mengapa orang sekolah. Justru alasan inilah yang kita akan lihat nanti sebab dalam hidup ini khususnya dalam ajaran Islam dikatakab bahwa setiap perbuatan tergantung pada niatnya.