Selamat Bergabung Kawan

Kawan yang Mulia

Kita manusia laksana ibarat penumpang yang sedang berada dalam sebuah Pesawat Terbang Super Canggih bernama "Dunia Air" yang sementara terbang dengan sangat cepat menuju tempat tujuan kita sesungguhnya bernama Kota Akhirat.

Oleh karena itu, mari kembali memeriksa perbekalan yang kita sebelum sampai ke tempat tujuan. Apa-apa yang telah kita persiapkan untuk hidup dan tinggal selama-lamanya di Kota Akhirat.

Ah, Kawan, saya tidak sedang bersenda gurau atau bermain-main. Justru saya sangat serius, yaa sangat serius.

Itulah salah satu asbab saya menulis-nulis dalam blog ini. Tentunya harapannya agar ia menjadi bagian dari renungan pemikiran kiranya kita kembali dapat membongkar isi tas perbekalan akherat berupa keyakinan-keyakinan, konsep-konsep kehidupan, dan pandangan-pandangan yang akan membantu kita meluruskan iman dan menggairahkan amal shaleh kita. Selamat bergabung kawan!!!

Selasa, 13 Oktober 2009

BUAH BELIMBING : JANGAN DIPETIK !

oleh Takuddin Rahimi



Beberapa waktu waktu lalu, tepatnya pada bulan Ramadhan 1430 H. Saya mengalami sebuah pengalaman yang unik dan mengejutkan. Betapa tidak, satu malam saya membutuhkan buah belimbing untuk saya jadikan lalapan penyedap ikan goreng waktu makan malam. Selera makan saya akan bertambah manakala makan disertai dengan buah belimbing. Biasanya kalau saya butuh buah belimbing saya petik dari pohon belimbing tetangga dan tentunya saya sudah minta izin sebelumnya. Tetapi malam itu tuan rumah pemilik pohon belimbing lagi pulang kampung untuk lebaran. Jadi saya tidak bisa minta izin kepadanya. Pikiran saya bekerja dengan sederhana. Ah- tidak apa-apa saya petik saja sedikit buah belimbing itu. Sama saja ada atau tidak ada tuan rumah. Bukankah kalau dia ada juga akan mengizinkan saya sebagaimana sebelumnya. Atau saya bisa saja melaporkan kepadanya kalau dia pulang dari kam pung. Begitulah fikiran saya saat itu.

Lagi pula saya pernah mendengarkan petuah guru saya waktu SD dahulu bahwa kalau kita memetik buah dari pohon yang bukan milik kita ala kadarnya, itu bukan termasuk mencuri apalagi kalau di Kampung itu telah menjadi kebiasaan yang dimaklumi.

Pada saat saya mengulurkan tangan untuk memetik buah belimbing itu, tiba-tiba dari belakang terdengar suara tegas dan menggelegar. ”Bapaaak!!!” Jangaaaan. Haroaaaam mengambil buah itu tanpa izin pemiliknya. Itu namanya mencuri.” Saya tersentak, tangan saya berhenti tak bergerak dan jatuh lunglai. Saya balik ke belakang ke arah suara itu. Saya lihat anak saya Haidar dengan muka serius kemudian berubah perlahan senyum dan mengatakan dengan lembut Pak, haram mengambil barang orang tanpa izin.

Awalnya saya ingin membela diri. Tetapi syukurlah suara hatiku mengatakan jangan bantah perkataan anak itu. Saya ucapkan alhamdulillah, suara hati kejujuran anak saya berfungsi dengan baik. Alhamdulillah, Haidar yang sekarang (tahun 2009) sedang duduk di kelas III di bangku sekolah SD Islam Terpadu Al-Hikmah Maros telah menyelamatkan saya dari perbuatan yang hina, mencuri, yaa mencuri. Satu perbuatan hina bagi orang-orang yang beradab. Terima kasih anakku, terima yaa Allah, Engkau telah mencurahkan hidayah kebenaran lewat bocah kecil ini. Semoga dia tumbuh berkembang menjadi mahlukmu yang langka di zaman ini. Menjadi orang yang jujur, insya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar