Beberapa waktu waktu lalu, tepatnya pada bulan Ramadhan 1430 H. Saya mengalami sebuah pengalaman yang unik dan mengejutkan. Betapa tidak, satu malam saya membutuhkan buah belimbin
g untuk saya jadikan lalapan penyedap ikan goreng waktu makan malam. Selera makan saya akan bertambah manakala makan disertai dengan buah belimbing. Biasanya kalau saya butuh buah belimbing saya petik dari pohon belimbing tetangga dan tentunya saya sudah minta izin sebelumnya. Tetapi malam itu tuan rumah pemilik pohon belimbing lagi pulang kampung untuk lebaran. Jadi saya tidak bisa minta izin kepadanya. Pikiran saya bekerja dengan sederhana. Ah- tidak apa-apa saya petik saja sedikit buah belimbing itu. Sama saja ada atau tidak ada tuan rumah. Bukankah kalau dia ada juga akan mengizinkan saya sebagaimana sebelumnya. Atau saya bisa saja melaporkan kepadanya kalau dia pulang dari kam pung. Begitulah fikiran saya saat itu.Lagi pula saya pernah mendengarkan petuah guru saya waktu SD dahulu bahwa kalau kita memetik buah dari pohon yang bukan milik kita ala kadarnya, itu bukan termasuk mencuri apalagi kalau di Kampung itu telah menjadi kebiasaan yang dimaklumi.
Pada saat saya mengulurkan tangan untuk memetik buah belimbing itu, tiba-tiba dari belakang terdengar suara tegas dan menggelegar. ”Bapaaak!!!” Jangaaaan. Haroaaaam mengambil buah itu tanpa izin pemiliknya. Itu namanya mencuri.” Saya tersentak, tangan saya berhenti tak bergerak dan jatuh lunglai. Saya balik ke belakang ke arah suara itu. Saya lihat anak saya Haidar dengan muka serius kemudian berubah perlahan senyum dan mengatakan dengan lembut Pak, haram mengambil barang orang tanpa izin.
Awalnya saya ingin membela diri. Tetapi syukurlah suara hatiku mengatakan jangan bantah perkataan anak itu. Saya ucapkan alhamdulillah, suara hati kejujuran anak saya berfungsi dengan baik. Alhamdulillah, Haidar yang sekarang (tahun 2009) sedang duduk di kelas III di bangku sekolah SD Islam Terpadu Al-Hikmah Maros telah menyelamatkan saya dari perbuatan yang hina, mencuri, yaa mencuri. Satu perbuatan hina bagi orang-orang yang beradab. Terima kasih anakku, terima yaa Allah, Engkau telah mencurahkan hidayah kebenaran lewat bocah kecil ini. Semoga dia tumbuh berkembang menjadi mahlukmu yang langka di zaman ini. Menjadi orang yang jujur, insya Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar